Jumat, 12 November 2010

Mujizat Pratima Guru

Seorang umat marga Liu mempersemayamkan pratima Guru di altar rumahnya, setiap hari menjapa mantra hati Guru ratusan hingga ribuan kali tidak berhenti.

Intisari mantra hati Mulaguru ini adalah:
Om—alam semesta.
Guru—Mahaguru.
Liansheng—Titisan teratai.
Siddhi—Buddhaloka yang suci.
Hum—berhasil.

Arti mantra hati ini adalah, "Mahaguru di alam semesta yang terhormat, membimbing para insan, setiap manusia menitis di teratai, semua terlahir di Buddhaloka yang suci, segalanya berhasil."

Mantra ini mantra Padmakumara, juga mantra rahasia Buddha Amitabha, tidak ada bedanya.

Umat marga Liu melakukan Mahanamaskara pada pratima Guru.

Sangat tulus menjapa mantra hati.

Umat marga Liu punya seorang putra bernama Liu Dalai, ia kuliah di daerah lain, liburan musim dingin baru pulang, melihat pratima Guru, ia kebingungan.

Tanya, "Buddha apa ini?"

"Padma Prabha Svara Buddha."

"Di mana?"

"Di dunia Saha."

"Masih hidupkah?"

"Dialah Mahaguru Lu."

Liu Dalai berkata. "Belum pernah dengar ada orang hidup disembahyangi, ini pasti iblis!"

"Jangan asal bicara."

Liu Dalai berkata, "Bagaimana menjelaskan orang hidup boleh disembahyangi?"

Umat marga Liu menjelaskan, "Tantra wajib menekuni Sadhana Guruyoga, berharap kontak yoga dengan Guru sendiri, Mulaguru adalah dhara (akumulasi) dari Buddha, Dharma, dan Sangha, kita harus visualisasi Mulaguru, makanya di altar ada foto, ini tidak heran, Zhenfo Zong mengubah foto menjadi pratima saja, foto dan pratima tidak ada bedanya, malah terasa lebih nyata, lebih mudah kontak yoga."

Liu Dalai berkata, "Walaupun penjelasan masuk akal, namun, tetap aneh, hati tidak nyaman! Saya tidak biasa sembahyang orang hidup."

Umat marga Liu bertanya, "Dulu kamu sempat bertemu Mahaguru Lu, kamu namaskara?"

"Ya," Liu Dalai pernah sekali bertemu saya.

"Mahaguru Lu adalah orang hidup, kita pun namaskara, mengapa begitu melihat pratima justru tidak namaskara?"

Ucapan Liu Dalai terjejal, "Ini........."

Liu Dalai kalah debat dengan ayah sendiri, tak disangka ia diam-diam mencuri pratima Guru, bahkan memecahkannya, lalu buang ke sungai.

Ayahnya sangat panik dan ketakutan, "Mahaguru manjur, kamu telah melanggar sila utama!"

Dalai berkata, "Mana mungkin pratima itu manjur, pratima sudah hancur, sudah retak, sudah dibuang ke sungai, mana bisa kembali lagi?"

Ayahnya berkata, "Bisa!"

Umat marga Liu beli lagi satu lalu mempersemayamkan di tengah altar, sesosok pratima Guru yang hidup lagi.

Dalai berkata, "Kalau saya hancurkan lagi..."

"Saya beli satu lagi."

"Hancurkan lagi!"

"Beli lagi!"

Mereka berdua mempertahankan pendirian masing-masing ...........

Umat marga Liu ini pernah karena masalah ini bertobat di hadapan saya, dan juga bertobat untuk putranya, Liu Dalai. Ia menganggap menghancurkan pratima adalah tindakan yang sangat durhaka, sungguh sangat tidak menghormati Mulaguru.

Saya tersenyum sebentar, anggap "tiada masalah".

Saya berkata kepada umat marga Liu, "Pratima yang Anda semayamkan memang manjur, berdoa padanya pasti manjur."

"Pulanglah! Liu Dalai berjodoh dengan saya, tidak ada masalah!"

Umat marga Liu mengiyakan lalu pergi.

*

Sepulangnya, umat marga Liu menyampaikan ucapan Mahaguru Lu kepada Liu Dalai, Dalai tidak percaya, mendengkus. Liu Dalai berkata, "Jika pratima Guru itu manjur, seharusnya memperlihatkan mujizat mengajarkan saya kalkulus!" setelah bicara ia terbahak-bahak.

Tugas yang dibawa pulang Dalai dari kampus ada beberapa soal kalkulus, ia memang tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya, sungguh memusingkan.

Aneh juga, malamnya ia bermimpi, di dalam mimpi Mahaguru Lu muncul, Beliau berdiri di ruang kuliah sedang membuat perhitungan kalkulus di atas papan tulis, bukan hanya membuat perhitungan kalkulus, bahkan ilmu ukur analisa, ilmu ukur analisa ruang semuanya diajarkan. Ini sama dengan Liu Dalai kembali ke ruang kuliah, dosen berubah menjadi Mahaguru Lu, penjelasannya tajam lagi jelas.

Nah, begitu Liu Dalai bangun, ia pun menyelesaikan seluruh tugas matematika.

Ini belum apa-apa, begitu Liu Dalai kembali kuliah, ia harus ikut lomba pidato, ia harus hafal naskah pidato, naskah pidato ini sangat panjang, tidak mudah dihafal, sehingga ia hanya hafal pokoknya saja, sewaktu pidato boleh baca naskah pidato.

Liu Dalai hanya baca sekali, hafal beberapa pokok.

Konon ia kembali kuliah, temannya bercanda dengannya dengan mencuri naskah pidato Liu Dalai, sesaat sebelum naik podium, ia cari di mana-mana namun tidak temukan, ia sangat panik sampai sekujur kepala pun berpeluh, seketika karena panik ia pun berteriak, "Tolong, Mahaguru Lu, Om Guru Liansheng Siddhi Hum!"

Begitu naik ke podium, bagi yang tidak membawa naskah pidato tambah satu nilai.

Ia sangat gugup, mendadak, di benak tak disangka muncul naskah pidato, satu kata demi satu kata sangat jelas, tanpa ragu sedikit pun ia segera pidato, sama persis dengan naskah pidato, satu kata pun tidak meleset.

Sewaktu ia pidato, ekspresinya wajar, bahasa isyaratnya lincah, isinya juga berbobot, sangat menarik, tak disangka ia dapat juara satu dalam lomba.

Di bawah podium, teman-teman yang telah mencuri naskah pidatonya terpaku, sebab yang dipidatokannya tidak meleset satu kata pun dari naskah pidatonya, ini hampir saja tidak mungkin, daya ingat siapa yang bisa sehebat itu? Semua temannya keheranan.

Daya ingat berubah sehebat itu, sebenarnya ada sebabnya pula.

Dari awal sampai akhir Liu Dalai menganggap daya ingatnya tidak baik, setelah Mahaguru Lu berubah menjadi dosen, ia memohon lagi di hadapan pratima Guru supaya daya ingatnya membaik, ini dimohonnya diam-diam, tidak diketahui oleh ayahnya.

Pada malam itu juga, Mahaguru Lu muncul lagi. Mahaguru Lu terbang di tengah angkasa lalu memetik banyak bunga, kemudian bunga-bunga ini dilumatkan, diolah menjadi nektar, kemudian diberikan kepada Liu Dalai untuk diminum, di dalam mimpi Liu Dalai meminum nektar, seketika terasa di mulut ada keharuman dan kesegaran, terus masuk ke hati dan limpa, naik lagi ke dalam otak, seluruh otak menjadi segar, nyaman, segala rintangan tidak ada lagi, seluruhnya lancar.

Lomba pidato kali ini mendapatkan juara satu adalah sebuah bukti.

Sejak Liu Dalai meminum nektar yang digodok oleh Mahaguru Lu, dalam aspek belajar, sekali baca saja sudah dapat menghafalkannya, tugas dikerjakan dalam kecepatan luar biasa, ia maju pesat, teman manapun tidak dapat menandinginya, ingatannya seolah-olah adalah komputer, sekali tekan tombol, maka segera tahu.

Liu Dalai saat ini juga sangat mengerti bahwa pembinaan diri Mahaguru Lu sangat luar biasa, Mahaguru Lu dalam tak terukur, seorang manusia dijuluki Padma Prabha Svara Buddha, Buddha Hidup Liansheng dengan mujizat tidak terbilang dan segala macam penjelmaan, oleh karena itu, kita jangan sembarangan memberikan kesimpulan.

Pada saat ini, ia juga menyesal telah menghancurkan pratima Guru, lalu ia diam-diam mempersemayamkan selembar foto Guru, setiap kali menjapa mantra hati, ia mengeluarkan foto Mahaguru, lalu menjapa sambil beranjali, setelah selesai menjapa ia simpan kembali, tidak membiarkan orang lain tahu.

Namun, menurut apa yang dikatakan Kitab Buddhis bahwa rupang suci dari lukisan di kertas atau ukiran di kayu, rupang Buddha yang terbuat dari tanah atau batu, sekalipun hanya sekedar nama suci yang ditulis dengan kuas, semua harus dipandang bagai Buddha sejati!

Bagi yang memberi persembahan dengan hormat maka akan beroleh berkah yang tidak terhingga.

Bagi yang meremehkan dan merusaknya, maka akan mendapatkan pembalasan buruk yang tidak bertepi.

Sang Buddha pernah bersabda, "Menghancurkan stupa atau vihara, membakar Sutra dan pratima, atau mengambil barang milik Buddha, Dharma, dan Sangha, serta menghancurkan dengan sesuka hati, semua ini dinamakan dosa terberat, seharusnya terjatuh ke dalam neraka Avici, disiksa tanpa batas waktu."

Walaupun Para Buddha Bodhisattva mahamaitri-karuna, kerangka semu pun diabaikan, mana mungkin membalas demi sebuah pratima ukiran tanah liat?

Namun, Agama Buddha ada Dewa Dharmapala, Dewa Dharmapala ingin memperlihatkan pembalasan karma, menghukum sebagai wujud himbauan, supaya orang tersebut sadar dan kembali ke jalan benar, agar tidak jatuh ke dalam penderitaan neraka, menghukum sebagai peringatan juga ada, inilah menghukum kejahatan berarti menghimbau kebaikan.

Oleh karena, Liu Dalai menghancurkan pratima Guru, ia diberi peringatan.

*

Berikut peringatan Liu Dalai:

Dalai naik sepeda motor bertamasya, sepeda motor melaju di jalan.

Di depan sebuah mobil box, di belakang diikuti sebuah mobil balap.

Mendadak mobil box rusak dan berhenti.

Dalai mengerem motor.

Namun, mobil balap yang mengikuti di belakang melaju sangat cepat sehingga mendadak menabrak sepeda motor, sekujur tubuh Dalai terlempar keluar, waktu dalam sekejap mata, sesaat sepenggal kekosongan, seketika, berada di antara ambang hidup dan mati.

Sepeda motor tertabrak sampai hancur berkeping-keping, mirip seonggok lumpur, semuanya bengkok dan berubah bentuk, orang yang melihat sepeda motor pun mengatakan sang pengendara pasti tewas.

Namun, persis sesudah Liu Dalai mendengar bunyi 'gemuruh' yang keras di kepala, sekujur tubuhnya terguncang, lepas dari sepeda motor, ia tahu tamatlah sudah, ini kecelakaan lalu lintas!

Di atas alam sadarnya, ia hanya tahu bahwa seakan-akan ada seseorang mengulurkan tangan menariknya dari sepeda motor, orang ini adalah Mahaguru Lu yang mengenakan mahkota Panca Buddha. Ia merasa tubuhnya melayang ringan, tidak merasakan apa-apa, angin berembus sepoi-sepoi.

Hanya sebentar saja, Liu Dalai sudah duduk di atas lapangan rumput di pinggir jalan raya.

Orang-orang berdatangan, mobil ambulan dan mobil polisi berdengung, Liu Dalai dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Liu Dalai didapatkan bahwa otaknya tidak gegar, seluruh tulang tidak ada yang patah, tidak ada cedera, bahkan kulit pun tidak lecet, segala fungsi tubuhnya normal, segalanya baik-baik saja, semata-mata terkejut saja.

Semua orang yang melihatnya berdecak kagum, "Mujizat! mujizat!"

Sepeda motor hancur berkeping-keping!

Pengendara sepeda motor tidak terluka sedikit pun!

Singkat kata itu mustahil.

Liu Dalai mengatakan bahwa orang yang menolongnya adalah Mahaguru Buddha Hidup Liansheng Sheng-yen Lu, di saat sekelebat kilat, ia melihat orang di dalam foto yang dipersemayamkannya itu memancarkan cahaya, menariknya terbang ke tempat lain, dan ia seketika jadi pusing dan berkunang-kunang.

*

Liu Dalai kembali ke rumah ayahnya, ia mengeluarkan sebagian uang yang ditabungnya sendiri lalu meminta ayahnya menemaninya membeli pratima Guru total 49 buah.

Ayahnya keheranan.

Liu Dalai berkata, "Saya menghancurkan satu buah, hari ini saya ganti dengan 49 buah untuk menunjukkan ketulusan pertobatan saya!"

"Baikkah demikian?"

"Tentu saja baik! Di rumah kita masih ada sebuah kamar kosong, kita dekorasi saja menjadi mandala Padmakumara, kemegahan mandala ini pasti sangat jarang ada sebagai pernyataan terima kasih atas kebaikan Mahaguru Lu yang telah menolong jiwa saya."

Begitu ayah Liu Dalai mendengarnya, ia sangat gembira, ayah dan anak berdua mendekorasi 49 sosok pratima Padmakumara menjadi sebuah mandala baru, ternyata sangat bagus, sangat mengesankan, agung dan menakjubkan, membuat orang sukacita begitu melihatnya.

Kemudian Liu Dalai bukan hanya menjapa mantra hati Guru, juga berlatih Sadhana Guruyoga, kontak yoga, setelah ia lulus perguruan tinggi, ia menjadi akuntan, pendapatannya banyak, ketika ia berusia 38 tahun, hidup dengan jujur, ketika karirnya sedang berada di puncak, tiba-tiba pada suatu malam bermimpi Mahaguru Lu datang.

"Dalai, sudah saatnya melatih diri dengan menjadi bhiksu!"

"Hidup saya sedang di puncak keemasan, sekarang tidak bisa!"

Begitu Mahaguru Lu mengayunkan lengan tangan-Nya—

Liu Dalai melihat dirinya mengalami kejadian yang berbahaya, masa depannya harus dijebloskan ke dalam penjara, melihat berbagai penderitaan di masa mendatangnya ........

Keringatnya bercucuran.

"Menjadi bhiksu atau tidak?"

"Ya, ya, saya bersedia menjadi bhiksu!"

Liu Dalai menyadari bahwa di dalam mimpi kepalanya terasa sejuk, begitu diraba barulah diketahui bahwa dirinya sudah dicukur menjadi bhiksu.

Belakangan, Liu Dalai benar-benar melatih diri dengan menjadi Bhiksu, ia melepaskan segalanya seperti rumah, tanah, mobil, harta miliknya dan berkonsentrasi mengejar kesucian, ketenangan, dan kesederhanaan non duniawi. Ia memahami bahwa hidup ini sangat singkat, hidup yang paling cemerlang sekalipun juga hanya sekadar sisa sinar mentari di ufuk barat, bintang kecerdasan yang paling terang nan gilang-gemilang pun hanya sekejap saja.

Liu Dalai akui, jika tidak bersandar pada Mahaguru Lu, jiwanya dari dulu sudah melayang, mana ada pelatihan diri yang sekarang, melatih diri barulah urusan hidup yang terpenting, tidak melatih diri, hidup sia-sia saja, semua kekayaan dan pangkat adalah sebuah mimpi belaka.

Ada sebuah gatha:
Awan tersibak rembulan putih penuh cahaya.
Hujan berlalu gunung pun berwarna biru tua.
Pahamilah perbedaan hidup dan mati.
Desiran angin air dan mata bangau juga suara misteri.

Tidak ada komentar: